Termasuk Daerah Ekuator, Letkol Laut (P) Salim: Indonesia Rentan Diadu Domba Asing

TETAP BERSATU – Staf Asops Panglima TNI, Letkol Laut (P) Salim, menegaskan pentingnya persatuan anak bangsa pada Kuliah Umum Jurusan HI FISIP UPN Veteran Yogyakarta, Senin (5/12/2016). (Foto: Haris Sunarmo)

Yogyakarta, GEMA NURANI NEWS ** Staf Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI, Letkol Laut (P) Salim, berpandangan, letak geografi Indonesia yang termasuk Daerah Ekuator rentan diadu domba pihak asing. Menurutnya, konflik global kini dilatarbelakangi perebutan Daerah Ekuator untuk mencari pangan, air, dan energi.

“Tahun 2043, diprediksikan, penduduk dunia mencapai 12,3 miliar. Sejumlah 9,8 miliar jiwa hidup di Daerah Non-Ekuator dan hanya sejumlah 2,5 miliar jiwa yang hidup di Daerah Ekuator. Daerah Ekuator memiliki potensi vegetasi atau cocok tanam sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Indonesia termasuk di dalamnya,” ungkapnya.

Salim menjadi narasumber utama dalam Kuliah Umum Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UPN Veteran Yogyakarta bertema ‘Kebangkitan Maritim Indonesia’ di Ruang Seminar FISIP UPN Veteran Yogyakarta, Senin (5/12/2016).

UN Official Visitor for UNIFIL Lebanon 2016 tersebut lalu kembali menandaskan pentingnya Ocean Leadership untuk memimpin Indonesia yang berkodrat maritim.

“Nakhoda yang tepat untuk bangsa ini adalah seseorang yang memiliki Ocean Leadership cerdas dan berwawasan global; mengerti akan jatidiri bangsa. Seseorang yang memiliki kepemimpinan jiwa bahari yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945,” tuturnya.

Dalam Ocean Leadership, tidak ada pemisahan antara kebijakan maritim nasional, doktrin maritim nasional, strategi maritim nasional, strategi keamanan maritim nasional, strategi pertahanan maritim nasional, dan strategi militer yang berbasis maritim.

“Kejayaan bangsa akan tercapai bila mampu memanfaatkan laut untuk kepentingan dan kemakmuran bersama,” pungkas Salim.

Ocean Leadership

Sejak di bangku kuliah, mahasiswa sebaiknya menempa dirinya menjadi calon pemimpin negara yang paham dan mengerti tentang Ocean Leadership. Karena di tangan merekalah, tampuk kepemimpinan nasional Indonesia di masa depan dipertaruhkan. Semua itu diawali dengan menyadari jatidiri dan kodrat kemaritiman Indonesia.

“Pelajari apa pun untuk berhasil, tapi jangan pernah lupakan Ocean Leadership, karena maritim adalah kodrat bangsa kita. Tidak boleh lagi ada pembodohan pendidikan peninggalan penjajah Belanda bahwa kita adalah bangsa daratan atau kontinental, sehingga potensi alam maritim kita tidak dapat menyejahterakan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Muharjono, mengatakan, Kuliah Umum bersama Letkol Laut (P) Salim diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional.

“Para mahasiswa dapat belajar banyak dari Letkol Laut (P) Salim yang telah berpengalaman (dalam hal kemaritiman),” tuturnya.

Acara selesai pada tengah hari, setelah sesi dialog yang membahas banyak isu kemaritiman, mulai dari diplomasi kemaritiman, kekuatan TNI Angkatan Laut, hingga isu keamanan laut. Tak lupa, Letkol Laut (P) Salim pun membagi-bagikan buku sebagai suvenir dan referensi perjuangan kemaritiman.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.