Merawat Marwah Negara Maritim Era Revolusi Industri 4.0

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, saat Upacara Wisuda dan Penyerahan Ijazah Tahap III Tahun Akademik 2018/2019, 12 Desember 2018, menegaskan peran IPB dalam pembangunan nasional melalui peluncuran konsep Agro-Maritim 4.0. Langkah ini sebagai respons atas tantangan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan Revolusi Industri 4.0 di bidang pertanian dalam arti luas.

Agro-Maritim 4.0 hadir untuk mengatasi masalah-masalah diskonektivitas pembangunan agro-maritim, degradasi lingkungan dan sumber daya alam, rendahnya kesejahteraan masyarakat, kerawanan pangan, rendahnya kontribusi sektor agro-maritim terhadap pertumbuhan ekonomi, dan ketimpangan pembangunan antar-wilayah di Indonesia.

Pengelolaan wilayah darat dan laut secara inklusif diintegrasikan, dengan melibatkan sistem sosial, ekonomi, dan ekologi yang kompleks. Perwujudannya melalui pendekatan transdisiplin, berupa konektivitas wilayah ekologis (ecoregion-connectivity), serta terintegrasi dan partisipatif (integrated-particitipatory).

IPB merumuskan arah transformasi Agro-Maritim 4.0 dengan mewujudkan pemulihan ekosistem agro-maritim serta tata kelola agro-maritim yang inklusif, berkeadilan, berdayaguna, dan menyejahterakan. Selain itu, produksi pangan dan non-pangan yang berkedaulatan, industri agro-maritim dan perdagangan yang berdaya saing, penguatan infrastruktur konektivitas dan rantai nilai agro-maritim antar-wilayah secara berimbang, serta penguatan sumberdaya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peta Jalan Maritim 4.0

Selanjutnya, pada 5 Desember 2018, IPB menyusun Peta Jalan Maritim 4.0 sebagai penjabaran dari konsep Agro-Maritim 4.0. Beberapa teknologi Maritim 4.0 yang dikembangkan IPB adalah Smart Small Island, Smart and Precise Aquaculture, Smart Fishing atau Smart Fishieries and Ocean Management.

Misal lainnya, Smart Light Fishing, e-Fishing Gear, e-Rumpon, Eletronic Fisheries Logbook, Fish Freshness Instrument, sistem pengasapan ikan dingin, alat penghitung telur ikan gurame, instrumen pembeda jenis kelamin ikan koi, Fry Counter.

Ada juga alat penghitung ikan hidup, mesin pemingsan ikan dan udang, automatic feeder, mesin pencampur dan pengering pakan ikan atau udang, instrumen pengusir burung, mesin pencuci dan pengering rumput laut, robot jelajah bawah air, Alat Pemantau Perairan dengan Teknologi GSM.

Berikutnya, Temperatur Data Logger, Autometic Weather Station, Sechi Dish Digital, ROV (Rometely Operated Vehicle), Wave Buoy, Coastal Drifter, Coral Watch, Underwater Televisual System, cheap and clean energi supply seperti biogas, biomassa, biofuel, solar power, wind power, microhydro, dan Internet of Thing (IoT) untuk sistem monitoring dan kontrol tenaga surya.

Ketika diundang ke kantor Food Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia di Roma, Italia, Rektor IPB sebagai satu-satunya pembicara dari unsur perguruan tinggi, kembali memaparkan Agro-Maritim 4.0. Arif secara khusus diundang dalam pertemuan Digital Agriculture: Challenges to be Addressed, 12-13 Juni 2019.

Belum lama ini, Selasa (9/7/2019), IPB dan Konsorsium Belanda (Nuffic, Maastricht School of Management, Wageningen, dan Aeres groep) membangun proyek Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN). Kurangnya fasilitas dan prasarana serta penanganan hewan ternak yang buruk berdampak pada biaya logistik dan transportasi yang tinggi. Selain itu, penurunan berat badan ternak, kinerja ternak, dan kesejahteraan hewan. Faktor ini menyebabkan harga produk yang lebih tinggi bagi konsumen, juga harga yang lebih rendah bagi produsen.

Among Tani Dagang Layar

Dengan semangat yang kurang lebih sama, sekira enam tahun sebelumnya, pada 21 September 2012, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan visi ‘Dari Among Tani Menuju Dagang Layar’ atau lazim disingkat ATDL.

Disampaikan saat penetapannya sebagai Gubernur DIY periode 2012-2017, Sultan berharap, ada paradigma baru peningkatan kesejahteraan rakyat, yaitu beralihnya pembangunan dari daratan ke sektor kemaritiman. Pembangunan yang ‘menghadap ke selatan’ atau pembangunan yang difokuskan ke daerah pesisir.

Ketika itu, Sultan menilai, kawasan selatan sebagai halaman depan DIY. Artinya, laut merupakan sumber penghidupan. Implementasinya, agrobisnis di bidang kelautan dapat dikembangkan dengan kemasan keistimewaan DIY. Selain itu, terdapat keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang perikanan.

Visi ATDL ternyata bukan hal baru bagi Sultan. Pada 2007, dalam bukunya berjudul Merajut Kembali Keindonesiaan Kita, Sultan menegaskan bahwa Indonesia merupakan ‘benua maritim’ yang sangat luas dengan corak alam sangat bervariasi disertai kemajemukan yang tinggi di antara lebih dari 400 etnis. Indonesia memiliki arti strategis secara geopolitik di dunia, terutama Asia Tenggara.

Menariknya, saat Rapat Paripurna Istimewa Penetapan Gubernur DIY Periode 2017-2022, Sultan menyampaikan visi ‘Menyongsong Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Yogya’  sebagai kelanjutan dari ATDL.

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato di Gedung International Maritime Organization (IMO) London, Inggris (19/4/2016). (Foto: Setkab)

Negara Maritim 4.0

Agro-Maritim 4.0 dan ATDL hanyalah dua ikhtiar anak bangsa untuk menjaga marwah Indonesia sebagai Negara Maritim. Serupa dengan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia Presiden Joko Widodo semasa periode pertama. Marwah Negara Maritim bukan hanya perlu dirawat dengan olah strategi, tapi juga aksi nyata.

Menyusul datangnya gelombang Revolusi Industri 4.0, ikhtiar menjaga marwah Negara Maritim seyogianya semakin implementatif. Peranti berupa monitoring otomatis, autopilot drone, atau smart factory dapat diolah sedemikian rupa untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dari sektor kemaritiman yang terintegrasi dengan sektor perekonomian lain.

Poros Maritim Dunia sebagai visi besar memang bukan hal mudah. Satu per satu persoalan yang ada mari kita urai, beriring keyakinan tentang kodrat bahari negeri ini yang harus diterima dan diupayakan sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Setiap elemen bangsa dapat memilih langkah strategisnya untuk terus merawat Negara Maritim di era Revolusi Industri 4.0. Mari kembali bekerja.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.