Ayip Abbas yang Kukenal

Di antara keturunan Mbah Yai Muqoyyim, pendiri Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, Kyai Ayip Abdullah Abbas lain dari yang lain. Sosok nyentrik ini dikenal hampir segenap kalangan. Dari Presiden sampai rakyat jelata.

Namanya saya dengar dari Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim alias Lesbumi, Ki Agus Sunyoto. Ada beberapa perihal sejarah Islam Nusantara yang saya tanyakan, dan beliau menyarankan untuk bertemu Kang Ayip Abbas dari Buntet. Demikian putra almagfurlah Kyai Khos Abdullah Abbas, Ponpes Buntet itu dipanggil. Kawan semasa SMP saya, Mukti, membenarkan adanya nama ini.

Tapi, baru setahun saya bisa bertemu beliau di pondokannya, di Padabeunghar, Pesawahan, salah satu nama desa di kaki gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat.

Perkawakannya subur, sinar matanya tajam, dan gaya bicaranya ceplas-ceplos. Semula saya heran, dengan namanya. Sebab, biasanya putra kyai dari jawa dipanggil gus, tapi ini ayip. Setahu saya, di kampung saya panggilan ayip, kependekan panggilan dari Syarief itu disematkan kepada turunan Rasulullah SAW.

Keheranan saya terjawab. Kang Ayip bilang, ayip itu adalah benar namanya, bukan gelar. Nama ini pemberian dari ayahnya, untuk menghormati seorang Habaib dari Rembang, Jawa Tengah yang ingin mengambilnya sebagai anak. Tapi, Kyai Abdullah Abbas keberatan.

Kang Ayip memilih menyingkir hidup di pedalaman, daripada tinggal di Ponpes Buntet yang namanya sudah melegenda. Beliau ingin berkiprah di jalur lain, tapi dekat dengan wong cilik. Jalan dakwahnya dengan mendekati anak-anak muda geng motor melalui kegiatan selawatan.

Sekali saya pernah ikut. Merinding rasanya. Kalau ayat-ayat Al Qur’an maupun bacaan selawat yang keluar dari mulut seorang santri itu biasa. Tapi, ini meluncur dari mulut anak-anak geng motor dengan berbagai penampilan. Ada yang bertato, telinganya bekas ditindik, semua khidmat dalam pembacaan selawat. Subhanallah.

Kepada rekannya, Mohammad Fathi bilang, “Saya hanya mencantolkan temen-temen dan saya sendiri pada Kanjeng Nabi melalui selawatan. Kalau ada yang menjadi lebih baik Alhamdulillah, tapi kalau belum ya setidaknya orang itu masih mau mencintai Nabi.”

Saya menduga jangan-jangan, karena doa-doa inilah, Indonesia masih bertahan sampai sekarang. Posisi Kang Ayip di ormas Nahdlatul Ulama juga cukup strategis, beliau adalah salah satu dewan penasihat Perguruan Silat Pagar Nusa yang cabangnya tersebar di mana-mana.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di India ini punya jaringan yang luas. Beberapa kolega saya yang di DPR, di media nasional pun adalah kenalannya.

Tapi Kang Ayip, konsisten di jalur dakwah kultural. Blusukan di kampung-kampung dengan kegiatan selawatan sambil menggelar santunan untuk yatim piatu. Beliau emoh masuk di wilayah politik. Bahkan, beliau menolak masuk ke dalam lingkar kekuasaan.

Kegiatan selawatan ini sudah berjalan cukup lama dan menyebar ke mana-mana. Termasuk ke Ibukota, kampus-kampus, dan lingkungan lainnya.

Di pondokannya, rutin digelar selawatan, tiap Jumat malam Sabtu. Di situ juga kerap menjadi tempat berbagai kalangan, aktivis, pejabat, santri dan lainnya berkumpul untuk curhat ataupun berdiskusi tentang masalah-masalah kehidupan.

Jumat (6/3) malam lalu, beredar kabar di grup WhatsApp, Kang Ayip wafat sesaat setelah memimpin selawatan nariyah. Cukup lama saya mendapatkan kepastian kevalidan kabar duka ini.

Setelah Kang Ayip dilarikan ke RS Jantung Hasna Medika, Cirebon, baru bisa dipastikan kalau beliau telah tiada. Kabar ini pun saya dapat dari pesan berantai di grup WA. innalillahi wainna ilahi rojiun.

Kawan saya, Kang Sobri bilang, sebelum wafat, Kang Ayip sudah membersihkan tubuhnya. Seperti tahu akan pergi. Beliau bilang tidak mau merepotkan orang lain. Mungkin inilah isyarat terakhir Kang Ayip untuk bertemu dengan Tuhan-nya. Selamat jalan Kang Ayip Abbas. Teruntuk beliau, Al -Fatihah.

Ditayangkan Rakyat Merdeka.

Recommended For You

About the Author: Widia Saputra

Jurnalis Rakyat Merdeka. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan aktivis HMI Cabang Sukoharjo. Minatnya pada jurnalisme telah ia tekuni, lebih dari satu dekade. Lahir dan besar di Kota Cirebon menumbuhkan kecintaan dan keseriusannya pada nilai-nilai religi, budaya, dan etika yang terus menjadi kekuatannya untuk bergiat dan berkarya.