Modal Optimisme Pemimpin Hadapi Covid-19

Saat wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) kali pertama muncul akhir tahun lalu di Kota Wuhan, Tiongkok, banyak pemimpin negara yang abai terhadap ancaman virus tersebut. Bahkan tak sedikit yang mengalihkan perhatian publik dengan narasi optimisme yang bias. Bias optimisme ini pun menjadi pangkal dari kegagapan mereka mengantisipasi ancaman secara akurat.

Di Indonesia sendiri, informasi tentang adanya wabah Covid-19 di Tiongkok sudah banyak menghiasi media sejak bulan Januari. Alih-alih menyiapkan sistem kesehatan secara komprehensif, pemerintah justru terkesan denial dan menebarkan narasi-narasi yang tidak relevan dengan upaya pencegahan Covid-19.

Padahal, kita semua tahu, di era globalisasi seperti sekarang, saat sebuah negara terjadi epidemi penyakit menular, tak ada negara lain yang kebal dari penularannya. Bila pemerintah Indonesia merasa optimis virus Corona tidak masuk ke Indonesia maka jelas itu adalah klaim optimis yang tidak realistis. Sebab, sebelum virus yang berasal dari keluarga Corona ini muncul, sudah ada virus lain yang juga masuk di Indonesia, seperti SARS di tahun 2003, MERS di tahun 2012, juga virus flu burung (H5N1) dimana Indonesia menempati kasus terbanyak di dunia.

Kita bisa mengupas kembali jejak digital pernyataan para menteri menyikapi wabah Covid-19. Sebut saja Menteri Kesehatan yang terlalu percaya diri dan menganggap Covid-19 tidak lebih bahaya dari batuk pilek biasa. Selain itu, ada juga menteri yang menganggap virus Corona bisa dicegah dengan minum jamu dan susu kuda liar.

Belakangan, ada anggota kabinet yang menyatakan bahwa iklim di Indonesia tidak memungkinkan virus Corona berkembang. Juga beragam pernyataan lain dari para anggota kabinet yang terang-terangan menyepelekan ancaman virus ini.

Hingga setelah malapetaka ini benar-benar terjadi, tak ada satu pun anggota kabinet yang mencabut pernyataannya dan meminta maaf pada publik atas sikap optimisme buta yang menyesatkan tersebut.

Jarak Pemimpin Populis dan Sains

Jauh-jauh hari para pakar dan ilmuwan bidang kesehatan telah mewanti-wanti pemerintah tentang ancaman wabah ini. Berharap agar pemerintah segera menyiapkan langkah-langkah antisipatif, mengingat virus Corona mampu menyebar dengan sangat cepat, juga mempertimbangkan fasilitas kesehatan kita belum cukup mampu untuk menampung ledakan jumlah pasien bila kasus Covid-19 tumbuh secara eksponensial.

Saran dari para pakar tentang pentingnya kesiapan pemerintah mengantisipasi wabah Covid-19 rupanya tidak begitu direspons dengan serius. Bahkan tidak jarang mereka yang berbicara tentang isu Covid-19 dinilai hanya menakut-nakuti masyarakat. Hal ini terjadi lantaran masalah kesehatan bukanlah isu yang populer bagi pemerintah, sehingga tidak mendapat perhatian khusus, sebagaimana isu ekonomi dan politik.

Karakter pemimpin populis yang tampak cekatan, responsif terhadap aspirasi rakyat, dan kerap turun langsung ke masyarakat ternyata kontras saat dihadapkan dengan masalah kesehatan seperti wabah Covid-19 ini. Bagi pemimpin populis, saran dari para pakar kesehatan mungkin tidak lebih penting dari agenda ekonomi dan politik, sehingga jarak yang menganga antara pemimpin populis dan ilmu pengetahuan menjadikan pertimbangan sains bukan aspek penting dalam merumuskan kebijakan. Maka wajar bila hampir semua anggota kabinet pemerintah kompak mengeluarkan pernyataan yang terkesan anti terhadap sains.

Optimisme Berbasis Sains

Kita semua menyadari bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk hidup yang mendiami bumi. Ada beragam makhluk hidup lain yang juga hidup bersama manusia di planet ini. Bukan hanya hewan dan tumbuhan yang kasat mata, namun juga makhluk-makhluk lain seperti bakteri, virus, dan kuman yang tak kasat mata.

Hidup sealas dengan makhluk hidup lain tentu saja bukan tanpa risiko. Apabila tidak ada relasi yang positif antara manusia dan makhluk hidup lain, bisa saja makhluk-makhluk tersebut mengancam kehidupan umat manusia.

Seperti yang pernah terjadi di daerah Karanganyar saat kawanan kera turun gunung dan memasuki pemukiman warga. Juga yang terjadi di Aceh ketika gerombolan gajah keluar sarangnya melintasi jalan raya dan memasuki pemukiman penduduk. Maka disinilah pentingnya manusia melakukan moderasi hubungan dengan makhluk lainnya agar tercipta harmonisasi kehidupan sesama makhluk hidup di muka bumi.

Namun, bagaimana caranya membangun moderasi dengan makhluk yang tak kasat mata, seperti kuman, bakteri, dan virus? Keberadaan mikroba tidak bisa dinafikan begitu saja. Bahkan di dalam tubuh manusia terdapat banyak bakteri yang memiliki peran positif dalam proses metabolisme tubuh. Tapi juga tak sedikit makhluk mikroba yang dapat mengancam kehidupan manusia.

Peran ilmu pengetahuan, seperti bakteriologi, virologi dan mikrobiologi, memiliki andil dalam mencermati kehidupan mikroba tersebut. Hasil riset dan kajian bidang ilmu tersebut memberi panduan bagi umat manusia tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menghindari ancaman virus, atau menghasilkan vaksin untuk memagari manusia dari virus, juga memproduksi obat untuk menyembuhkan penyakit akibat virus. Dan tentu saja hasil riset tersebut menjadi rekomendasi bagi pengambil kebijakan tentang langkah yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi ancaman virus.

Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan memainkan peran penting dalam menjamin keberlangsungan hidup umat manusia. Sebelum ilmu pengetahuan berkembang seperti sekarang, banyak wabah penyakit yang tidak ditemukan obatnya sehingga mengakibatkan tewasnya jutaan umat manusia. Seperti wabah hitam atau biasa disebut Black Death yang merenggut tidak kurang dari 25 juta nyawa manusia, dan Flu Spanyol (H1N1) yang menginfeksi sekitar 500 juta orang.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kini para ilmuan bisa mengetahui perkembangan virus lebih dini, sehingga bisa mencegah penyebaran virus tersebut. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memberi perhatian yang besar terhadap program-program riset ilmiah. Selain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, hasil dari riset-riset ilmiah tersebut juga bisa menjadi bahan pemerintah dalam pengambilan kebijakan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dengan bermodalkan hasil riset tersebut, seorang pemimpin bisa memiliki optimisme yang kuat berbasis data ilmiah dalam merespons wabah penyakit yang disebabkan oleh virus. Tanpa pertimbangan ilmu pengetahuan, optimisme pemimpin tak ubahnya seperti jargon politik, sehingga mustahil dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Sebaliknya, justru mengancam masa depan umat manusia.

Ditayangkan Kumparan.

Recommended For You

About the Author: Adhi Nur Seto

Pegiat Lingkar Studi Kesehatan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial. Ketua Umum HMI Cabang Sukoharjo 2015. Alumnus FIK UMS.