Polemik Kehidupan Para Buruh

Membaca buku ‘Buruh, Serikat dan Politik’ karya John Ingleson, kita seolah dibawa ke sejarah gerakan buruh Hindia Belanda beserta dinamikanya yang terjadi saat dalam kekuasaan pemerintah Kolonial. Ingleson memfokuskan penelitiannya tentang peran organisasi buruh tahun 1920-an hingga jatuhnya pemerintah kolonial Belanda ke tangan Jepang tahun 1942.

Peran organisasi buruh Hindia Belanda seakan meredup pasca meletusnya pemberontakan buruh yang dimotori serikat buruh beraliran komunis berakhir dengan kegagalan pada tahun 1926-27. Padahal dinamika serikat buruh Hindia Belanda tidak otomatis senyap, melainkan banyak dinamika yang terjadi di dalamnya.

“… Di luar retorika Politik Etis, perekonomian kolonial didasarkan pada eksploitasi tenaga kerja murah penduduk pribumi oleh modal asing, yang didukung oleh kekuasaan koersif negara kolonial..” (hal 48).

Banyaknya lulusan sekolah tinggi baik dari kalangan Indo-Eropa dan pribumi yang terjadi di Hindia Belanda membuat pemerintah kolonial memperhatikan kondisi buruh dengan mendirikan Kantor Perburuhan. Meskipun demikian rasa superior buruh kalangan Eropa yang memandang masyarakat jajahannya lebih rendah, dapat dilihat dari kebijakan pengupahan yang menerapkan perbedaan besarnya upah berdasarkan ras.

Ada tiga golongan upah dimana upah tertinggi diperuntukkan untuk mereka orang Eropa, kemudian golongan Indo-Eropa dan Tionghoa dan yang terakhir adalah golongan pribumi. Masing-masing serikat buruh dari setiap golongan seringkali memunculkan konflik (baik di tingkatan elit maupun di akar rumput) kepentingan yang tidak mampu diselesaikan oleh pemerintah kolonial. Perbedaan upah ini juga memunculkan pertanyaan bagaimana perjuangan buruh di Negara kolonial, apakah berbasiskan kelas atau ras? (hal 71).

Permasalahan ini diuraikan oleh Ingleson dengan rinci pada bab 2, termasuk di dalamnya bagaimana para pemimpin buruh dari berbagai sektor pekerjaan berusaha menyatakan dirinya tidak berafiliasi dengan partai politik namun di sisi lain juga terlibat aktivitas nasionalis yang dianggap pemerintah kolonial sebagai aktivitas yang membahayakan ketertiban Negara.

Di bab selanjutnya Ingleson menguraikan peran serikat buruh saat krisis ekonomi melanda Hindia Belanda. Beberapa kejadian penting saat krisis ekonomi terjadi mengubah peta gerakan buruh di Hindia Belanda. Banyak pekerjaan yang tadinya hanya diperuntukkan untuk kaum Eropa maupun Tionghoa bisa diisi oleh golongan pribumi dengan bayaran upah yang lebih rendah. Juga diuraikan bagaimana serikat-serikat buruh melakukan gerakan sosial seperti memberikan tunjangan sosial bagi buruh yang dipecat, membuka koperasi-koperasi disamping melakukan pendidikan tentang pentingnya hak-hak buruh di serikat masing-masing.

“.. Depresi mendorong percepatan proses masuknya orang-orang Indonesia ke dalam bidang pekerjaan yang sebelumnya menjadi lahan khusus orang-orang Tionghoa dan Eropa. Kaum majikan tahu bahwa mereka bisa mengurangi pengeluaran secara substansial dengan mempekerjakan orang-orang Indonesia yang mau dibayar murah..” (hal 218)

Meskipun berbeda kepentingan, ada beberapa momen yang menyatukan serikat buruh dari berbagai golongan. Seperti yang terjadi saat pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan pengurangan upah dan pegawai di Badan Negara serta pembatasan sekolah-sekolah yang didirikan swasta (ordonansi sekolah liar). Kalangan buruh yang aktif di serikat baik dari kalangan Eropa maupun pribumi sama-sama menyatakan penolakan terhadap kedua permasalahan tersebut. Perdebatan tersebut diaktualisasikan dengan banyaknya protes di dewan rakyat, media massa maupun demonstrasi di jalanan yang langsung dilakukan buruh di berbagai kota di Hindia Belanda.

Pentingnya membaca buku ini bagi kita adalah dapat mengerti bagaimana dinamika serikat buruh, kaitan buruh dengan politik serta metode perjuangan serikat buruh yang terjadi di Hindia Belanda pada tahun-tahun terakhir pemerintah kolonial. Dengan uraian Ingleson kita bisa memahami bagaimana polemik kehidupan buruh di era kolonial sampai sekarang belum selesai diperdebatkan. Satu yang menjadi penting buku ini bisa menjadi refleksi bagi mereka yang berkecimpung di gerakan buruh di masa sekarang untuk bisa mempelajari perjuangan serikat-serikat buruh di masa lalu.

*Artikel ditayangkan Artikulasi.

Recommended For You

About the Author: Aldian Andrew Wirawan

Aktif di Becak Institute dan pelaku gerakan mahasiswa