Taufiq Kiemas, ‘First Gentleman’

Tokoh penting di tubuh PDIP, Taufiq Kiemas mengembuskan nafas terakhir pada Sabtu (8/6) malam. Setelah menjalani perawatan di Singapura. Jenzahnya dikebumikan pada Minggu (9/6) di Taman Makam Pahlawan Kalibata diiringi upacara kebesaran.

Selain politisi senior, almarhum adalah ketua MPR RI saat ini sekaligus suami Megawati Soekarnoputri mantan Presiden RI yang juga ketua umum PDIP.

Dalam perspektif kebangsaan, kepergian Taufiq Kiemas untuk selama-lamanya terbilang khusnul khotimah. Kedudukannya sebagai Ketua MPR RI diakhir hayatnya serta berbagai manufer politiknya akhir-akhir ini merupakan kiprah politik yang positif buat kemajuan bangsa. Selain itu, wafatnya juga di bulan Juni, yang merupakan lahirnya Pancasila dan bulannya Bung Karno yang notabene patron politik dari kaum nasionalis.

Sebelumnya, pada 1 Juni, Taufiq Kiemas mendampingi Wakil Presiden Boediono meresmikan Monumen Bung Karno dan Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur bertepatan dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MPR RI, Taufiq Kiemas sangat concern terhadap masalah-masalah kebangsaan. Hal ini bisa dilihat dari komitmennya memperjuangkan empat pilar: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Sebagai seorang politisi, perjalanan karirnya sudah dirintis sejak mahasiswa. Aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kemudian bergabung dengan PDIP di era Orde Baru. Era Reformasi membuat posisinya semakin penting, dengan mendirikan PDI Perjuangan. Kemudian menjadi partai pemenang dalam pemilu 1999. Statusnya sebagai suami Megawati Soekarnoputri merupakan ikon dan ketua umum PDIP semakin menjadikan peranannya sangat menonjol, di belakang layar.

Saat Megawati Presiden, Taufiq Kiemas menjadi orang paling berpengaruh di negeri ini. Sebagai first gentleman tentu membuat dirinya mempunyai andil besar terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Pada waktu Megawati mencalonkan diri kembali sebagai Presiden 2004, bersama Akbar Tanjung menggagas koalisi kebangsaan sebagai koalisi partai pendukung pasangan Mega-Hasyim kala itu. Walaupun akhirnya dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Sebenarnya meroketnya figur SBY tak lepas dari kontribusi Taufiq Kiemas. Dalam satu kesempatan, ia pernah mendiskreditkan SBY dengan mengatakan, “Jenderal kok seperti anak kecil.” Stetemen tersebut membuat publik bersimpati kepada SBY yang kemudian akhirnya meraih suara terbanyak dalam Pilpres.

PDIP tentu sangat kehilangan sosok Taufiq Kiemas. Selama ini tataran elite partai ini sangat bergantung pada racikan politik Taufiq Kiemas. Kebijakan penting partai tak lepas dari buah pikirannya. Di samping keluwesan geraknya dibanding Megawati, memungkinkan dirinya bisa berkomunikasi serta bermitra dengan partai lain. Bahkan dengan SBY yang selama ini merupakan rival politik. Kebekuan hubungan Megawati dengan SBY berhasil dicairkan oleh Taufiq Kiemas.

Kepergian Taufiq Kiemas diharapkan tidak melunturkan etos politik PDIP. Sebagai partai politik yang berhaluan nasionalis serta mempunyai basis massa yang mengakar. Peluang menang dalam pemilu sangat besar. Namun juga dibutuhkan figur-figur yang bisa meracik politik pada tataran elite partai. Kedudukannya sebagai tokoh penting di partai bisa digantikan oleh kader lain yang mempunyai loyalitas serta dedikasi yang tinggi. Di samping itu, kedudukananya sebagai Ketua MPR RI diharapkan digantikan oleh anggota fraksi PDIP yang mempunyai kredibilitas tinggi.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah